Hijab Sekadar Tren atau Ketaatan? Menemukan Kembali Maknanya
Hijab makin variatif gayanya, tapi apakah masih menjalankan fungsinya? Ini penjelasan tentang batas antara ekspresi diri dan ketaatan dalam berhijab.
Scroll timeline sebentar saja, kamu akan menemukan puluhan gaya hijab dalam satu menit. Hijab pashmina, hijab instan, hijab jahat yang dipadukan jaket kulit dan rantai, hijab syar’i selutut yang jadi bahan perdebatan di kolom komentar. Semuanya disebut hijab. Tapi apakah semuanya menjalankan fungsi yang sama?
Ini pertanyaan yang jarang ditanyakan secara langsung, mungkin karena terasa menghakimi. Tapi justru karena itu penting untuk dijawab jujur, bukan buat menghakimi siapa pun, tapi buat kamu sendiri yang mungkin diam-diam pernah bertanya, “hijab yang aku pakai ini sebenarnya untuk siapa?”
Ketika Hijab Berubah Jadi Komoditas
Fenomena ini bukan cuma perasaan. Riset di kalangan remaja tentang tren fashion hijab modern menemukan bahwa banyak anak muda lebih mengutamakan gaya dan penampilan dibanding nilai syariat yang seharusnya jadi tujuan awal hijab, yaitu menutup aurat. Media sosial ikut berperan besar dalam pergeseran ini, karena hijab influencer dan fashion blogger secara tidak langsung menciptakan standar berpakaian baru yang kadang sudah jauh dari ketentuan syariat.
Fenomena “hijrah” di kalangan publik figur memperkuat pola ini. Banyak yang menyambut baik ketika seorang artis memutuskan berhijab, tapi ada juga kekhawatiran bahwa hijrah berhenti sebagai perubahan penampilan semata, tanpa diiringi perubahan nilai dan kualitas ibadah yang lebih dalam. Hijab jadi identik dengan “citra baru”, bukan komitmen batin yang mengubah cara hidup.
Bukan berarti setiap orang yang mulai dari penampilan itu munafik. Banyak yang memang berproses dari luar ke dalam, dan itu wajar. Yang jadi masalah adalah kalau prosesnya berhenti di situ saja, hijab jadi kostum, bukan identitas.
”Berpakaian tapi Telanjang”, Peringatan yang Sudah Ada Sejak Dulu
Ini bagian yang sering bikin kaget kalau baru pertama kali dengar. Rasulullah ﷺ pernah menyebutkan fenomena ini jauh sebelum media sosial ada. Dalam hadits riwayat Muslim, beliau bersabda tentang dua golongan penghuni neraka yang belum pernah beliau lihat pada masanya. Salah satunya adalah wanita yang berpakaian tapi telanjang, yang berjalan dengan gaya melenggak-lenggok penuh kesombongan, kepalanya digelung besar menyerupai punuk unta yang miring.
An-Nawawi, ulama besar yang mensyarah hadits ini, menyebut hadits ini termasuk mukjizat kenabian, karena fenomena yang digambarkan itu benar-benar terjadi di masa sekarang, padahal disampaikan berabad-abad sebelumnya.
“Berpakaian tapi telanjang” itu maksudnya apa? Ini menggambarkan pakaian yang secara teknis menutupi tubuh, tapi karena bahannya tipis, ketat, atau modelnya tidak lagi menyembunyikan lekuk tubuh, fungsinya sebagai penutup aurat jadi hilang. Kamu pakai kain, tapi secara esensi sama saja dengan tidak berpakaian, karena yang seharusnya tersembunyi tetap terlihat.
Bandingkan dengan istilah yang sekarang beredar di masyarakat kita sendiri, seperti “jilboobs” atau “jipon” (jilbab poni), yang muncul justru karena masyarakat sadar ada gap antara memakai hijab secara fisik dan menjalankan fungsi hijab yang sebenarnya. Hadits yang berumur belasan abad ini ternyata masih relevan menggambarkan fenomena yang kita lihat sendiri hari ini.
Bukan Cuma Soal Menutup, Ada Beberapa Syarat Lain
Banyak yang mengira hijab syar’i itu cuma soal “yang penting rambut ketutup”. Padahal ulama fiqih menjabarkan beberapa syarat lain yang justru sering terlewat, meski secara teknis kepala sudah tertutup kain.
Menutup seluruh tubuh, bukan sekadar kepala. Dasarnya QS. Al-Ahzab ayat 59, yang memerintahkan perempuan mukmin mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh. Sebagian ulama berpendapat wajah dan telapak tangan boleh terlihat, sementara sebagian lain mewajibkan semuanya tertutup. Perbedaan ini wajar terjadi karena metode penafsiran ulama yang berbeda, dan kalau kamu penasaran kenapa hal semacam ini bisa berbeda pendapat, kamu bisa baca lebih dalam soal bagaimana perbedaan pandangan antar mazhab bisa terjadi.
Kainnya harus tebal, tidak tipis dan menerawang. Ini yang paling sering dilanggar tanpa sadar, terutama untuk hijab berbahan tipis yang dipakai tanpa dalaman.
Longgar, tidak ketat mengikuti lekuk tubuh. Hijab boleh modis, tapi kalau bentuknya justru menonjolkan lekuk tubuh, fungsinya sebagai penutup aurat sudah bergeser jadi alat memperlihatkan bentuk tubuh dengan cara yang lebih halus.
Bukan untuk jadi perhiasan yang menarik perhatian. QS. An-Nur ayat 31 menegaskan larangan menampakkan perhiasan kecuali yang biasa terlihat. Hijab dengan warna sangat mencolok atau aksesoris berlebihan yang justru bikin orang menoleh, itu bertentangan dengan tujuan hijab itu sendiri, yaitu menjaga diri dari perhatian yang tidak perlu.
Tidak menyerupai gaya berpakaian yang identik dengan lawan jenis. Ini bukan larangan modis sama sekali, tapi soal menjaga identitas sebagai perempuan tetap jelas terlihat.
Berikut ringkasannya biar lebih gampang diingat:
| Syarat | Tujuannya | Contoh yang Sering Dilanggar |
|---|---|---|
| Menutup seluruh tubuh | Menutup aurat secara menyeluruh | Hijab pendek yang tidak menutup dada |
| Tebal, tidak tipis | Tidak menampakkan bayangan tubuh | Bahan chiffon tanpa dalaman |
| Longgar, tidak ketat | Tidak menampakkan lekuk tubuh | Gamis atau outer yang dipotong mengikuti bentuk badan |
| Bukan perhiasan | Menghindari perhatian berlebihan | Motif atau warna sangat mencolok, aksesoris berlebihan |
| Tidak menyerupai lawan jenis | Menjaga identitas sebagai perempuan | Model yang meniru gaya berpakaian maskulin secara keseluruhan |
Nggak ada satu pun dari syarat ini yang berarti hijab harus kusam atau membosankan. Faktanya, banyak muslimah tetap tampil modis dan estetik selagi lima prinsip ini tetap dijaga.
Niat yang Sering Luput Diperiksa
Ada satu hadits lagi yang relevan untuk direnungkan di sini. Rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa yang paling beliau khawatirkan atas umatnya adalah syirik kecil, yaitu riya, perbuatan yang dilakukan bukan murni karena Allah, tapi karena ingin dilihat dan dipuji manusia.
Ini bukan berarti setiap muslimah yang tampil menarik dengan hijabnya sedang riya. Tapi ini pengingat penting untuk sesekali bertanya pada diri sendiri, apakah kamu berhijab karena memang ingin taat, atau karena ingin terlihat “sudah berhijrah” di mata orang lain. Dua hal ini kadang terlihat sama dari luar, tapi beda sekali di hadapan Allah.
Kamu bisa baca lebih dalam soal ini di pembahasan hadits segala amal tergantung niatnya, karena prinsip yang sama berlaku juga untuk hijab. Bukan bentuk luarnya yang jadi penentu utama nilai ibadah, tapi apa yang ada di baliknya.
Jadi, Gimana Cara Memastikan Hijabmu Sudah di Jalur yang Benar?
Kamu nggak perlu langsung mengganti seluruh isi lemari atau merasa bersalah kalau selama ini gaya hijabmu ternyata belum sepenuhnya sesuai. Yang penting adalah langkah kecil yang konsisten menuju arah yang benar.
Coba mulai dari mengecek ulang bahan hijab yang kamu punya. Kalau ada yang terlalu tipis, tambahkan dalaman atau ganti dengan bahan yang lebih tebal. Ini langkah sederhana yang dampaknya besar.
Perhatikan juga potongan pakaianmu, bukan cuma hijabnya. Percuma kalau hijab sudah menutup kepala dengan baik, tapi baju atau gamis di baliknya justru press body. Fungsi menutup aurat itu satu paket, bukan cuma soal kepala.
Dan yang paling penting, sesekali tanyakan pada dirimu sendiri, kenapa kamu memilih gaya hijab tertentu hari ini. Kalau jawabannya karena ingin taat dan nyaman menjalankan perintah Allah, itu jalan yang tepat. Kalau jawabannya lebih banyak soal validasi dari orang lain, itu bukan alasan untuk berhenti berhijab, tapi alasan untuk meluruskan kembali niatnya.
Penutup
Hijab bukan kompetisi siapa yang paling modis, dan bukan juga soal siapa yang paling terlihat syar’i di mata orang lain. Ini soal ketaatan yang sifatnya personal, antara kamu dan Allah.
Kamu boleh tampil rapi, modis, bahkan estetik dengan hijabmu. Islam nggak pernah melarang keindahan. Yang penting, jangan sampai fungsi utamanya hilang di tengah jalan, tergerus oleh keinginan untuk selalu terlihat kekinian. Semoga Allah mudahkan kita semua untuk terus memperbaiki niat, bukan cuma memperbaiki gaya.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
1. Apakah boleh memakai hijab dengan warna cerah atau motif ramai? Boleh, selama tidak berlebihan sampai jadi pusat perhatian yang tidak wajar. Prinsipnya bukan soal warna gelap atau terang, tapi soal apakah hijab itu jadi alat untuk menarik perhatian secara berlebihan atau tidak.
2. Bagaimana kalau saya baru belajar berhijab dan belum konsisten sepenuhnya? Itu proses yang wajar. Islam menghargai usaha yang konsisten meski bertahap, dibanding langsung sempurna tapi tidak bertahan lama. Yang penting arahnya menuju perbaikan, bukan berhenti di titik nyaman tanpa niat untuk terus belajar.
3. Apakah pakai celana panjang dengan hijab termasuk melanggar syarat tidak menyerupai laki-laki? Ini termasuk topik yang diperdebatkan ulama. Sebagian berpendapat celana termasuk pakaian yang identik dengan laki-laki, sementara sebagian lain melihat konteks zaman sekarang di mana celana sudah jadi pakaian umum untuk perempuan juga, selama modelnya tetap feminin dan tidak ketat.
4. Apakah hijab yang saya pakai harus selalu berwarna hitam supaya syar’i? Tidak harus. Warna hitam memang sering direkomendasikan karena cenderung tidak mencolok, tapi warna lain tetap diperbolehkan selama tidak digunakan sebagai perhiasan yang berlebihan atau menarik perhatian secara berlebihan.
5. Bagaimana cara menyikapi kritik orang lain soal gaya hijab saya? Terima masukan yang membangun dengan lapang dada, tapi kamu juga nggak perlu terus menerus merasa diadili oleh standar orang lain yang belum tentu benar. Fokus utamanya adalah terus memperbaiki diri di hadapan Allah, bukan mengejar validasi dari siapa pun, termasuk dari sesama muslimah yang mungkin caranya menegur kurang tepat.
Artikel ini disusun berdasarkan kajian dari Yaqeen Institute, UII Al-Rasikh, Muslimah.or.id, Rumaysho.com, dan riset akademik tentang tren fashion hijab di kalangan remaja Indonesia.
Baca Juga