Ulama Perempuan dalam Sejarah Islam yang Terlupakan
Ulama perempuan bukan hal baru dalam Islam. Selama berabad-abad, mereka mengajar, meriwayatkan hadits, dan membentuk tradisi keilmuan Islam tapi namanya jarang kita dengar. Kenapa?
Ulama Perempuan dalam Sejarah Islam yang Terlupakan
Ada sebuah momen menarik yang terjadi di abad ke-19. Seorang orientalis asal Hongaria bernama Ignác Goldziher sedang duduk di perpustakaan, membaca sebuah kamus biografi Islam dari abad ke-15 karya Ibn Hajar al-Asqalani yang berjudul al-Durar al-Kamina.
Goldziher bukan orang sembarangan. Dia akademisi yang sudah lama mengkaji Islam, dan punya gambaran tersendiri tentang seperti apa dunia keilmuan Islam itu. Tapi di momen itu, dia terkejut.
Bukan karena menemukan sesuatu yang mengancam. Tapi karena menemukan sesuatu yang tidak dia duga: ratusan nama perempuan. Ulama perempuan. Dengan murid-murid, dengan otoritas keilmuan, dengan perjalanan lintas kota demi menyebarkan ilmu.
Goldziher yang selama ini mengkaji Islam dari luar tiba-tiba berhadapan dengan kenyataan yang berbeda dari asumsinya sendiri.
Mereka Bukan Pengecualian
Ini yang sering salah dipahami. Ketika kita bicara soal ulama perempuan dalam sejarah Islam, banyak yang membayangkan satu atau dua nama yang “unik” perempuan luar biasa yang entah bagaimana berhasil menembus batas zamannya. Semacam anomali.
Nyatanya tidak begitu.
Dalam satu kitab al-Durar al-Kamina saja, Ibn Hajar mendedikasikan sekitar dua ratus entri khusus untuk ulama perempuan. Dua ratus. Dan Ibn Hajar bukan sekadar mencatat nama mereka banyak di antara mereka adalah guru-gurunya sendiri.
Artinya, perempuan yang berilmu dan mengajar bukan fenomena pinggiran dalam sejarah Islam. Mereka adalah bagian dari ekosistem keilmuan yang dianggap wajar, bahkan dihormati.
Perempuan yang Muridnya Rela Berjalan Berbulan-bulan
Salah satu nama yang disebut dalam kitab itu adalah Zaynab bint Kamal (wafat 740 H/1339 M), ulama dari Damaskus yang keilmuannya sudah diakui jauh melampaui batas kotanya.
Imam al-Dzahabi salah satu ulama hadits terbesar di masanya pernah menulis tentang Zaynab dengan kalimat yang luar biasa: bahwa siapapun yang ingin mendapatkan sanad dengan kualitas terbaik, maka hendaklah belajar darinya. Dan kalau seseorang harus berjalan selama sebulan hanya untuk mendengar satu bagian ilmu darinya, perjalanan itu tidak akan sia-sia.
Zaynab punya ijazah (lisensi mengajar) dari para ulama di Baghdad, Aleppo, Damaskus, Alexandria, sampai Kairo. Di penghujung hidupnya, orang-orang menyebutnya memiliki ijazah “seberat beban unta” ungkapan untuk menggambarkan betapa banyak dan beratnya kualifikasi keilmuan yang dia miliki.
Di antara yang pernah belajar darinya: Imam al-Dzahabi sendiri, Ibn Hajar al-Asqalani, Ibn Battuta sang penjelajah dunia, dan banyak nama besar lainnya.
Perempuan yang Kematiannya Mengubah Peta Keilmuan
Ada satu catatan dari Imam al-Suyuti yang rasanya cukup untuk menggambarkan betapa seriusnya peran perempuan dalam tradisi keilmuan Islam.
Ketika seorang ulama perempuan bernama Amat al-Khaliq al-Dimasyqiyah wafat pada tahun 902 H, al-Suyuti menulis bahwa dengan kepergiannya, “manusia turun satu derajat dalam hadits.”
Bukan satu orang. Tapi keseluruhan ekosistem keilmuan hadits dianggap mengalami penurunan tingkatan karena satu perempuan itu tidak ada lagi.
Begitu juga catatan dari al-Sakhawi, yang menyebut bahwa wafatnya seorang muhadditsa (ahli hadits perempuan) tertentu berdampak nyata pada transmisi hadits di Mesir.
Ini bukan penghormatan simbolis. Ini pengakuan bahwa kontribusi mereka nyata dan tidak tergantikan.
Perjalanan dari China ke Bukhara
Kalau kamu pikir perempuan dalam sejarah Islam hanya aktif di satu kota atau satu wilayah saja, kisah Fatima bint Sa’d al-Khayr mungkin akan mengubah pandangan itu.
Fatima lahir di China tepatnya di wilayah timur Kashgar, sekitar tahun 522 H. Sejak kecil dia sudah belajar ilmu agama di kampung halamannya, tapi itu tidak cukup baginya.
Dia melakukan perjalanan panjang ke pusat-pusat keilmuan Islam: Bukhara, Nishapur, Isfahan. Bukan sebagai turis. Tapi sebagai penuntut ilmu yang serius, yang kemudian menjadi pengajar yang disegani.
Di zaman ketika perjalanan lintas negeri butuh waktu berbulan-bulan dan penuh risiko, Fatima melakukannya demi ilmu. Kalimat yang sering dipakai untuk menggambarkan beliau adalah “al-shaykha al-jalila al-saliha” sang syaikhah yang agung dan shalihah.
Kenapa Kita Hampir Tidak Pernah Dengar Nama Mereka?
Pertanyaan ini wajar muncul. Kalau memang peran perempuan dalam keilmuan Islam sepenting itu, kenapa nama-nama mereka nyaris tidak pernah masuk ke pelajaran sejarah yang kita terima?
Sebagian jawabannya ada pada narasi yang dipilih untuk diturunkan dari generasi ke generasi. Sejarah selalu ditulis dengan sudut pandang tertentu, dan tidak semua yang ada dalam teks-teks klasik berhasil diterjemahkan ke dalam kurikulum modern.
Tapi buktinya ada dan tidak bisa dipalsukan. Nama-nama mereka tersimpan rapi dalam kitab-kitab biografi yang ditulis oleh ulama laki-laki yang justru dengan bangga mencatat nama guru-guru perempuan mereka. Tidak ada yang menyembunyikan. Tidak ada yang ditutupi. Mereka ada, dan diakui.
Yang terjadi lebih kepada: kita tidak cukup sering mencarinya.
Apa yang Bisa Kita Bawa Pulang dari Ini?
Islam tidak pernah menutup pintu ilmu untuk perempuan. Sejak masa Aisyah radhiyallahu ‘anha yang meriwayatkan lebih dari dua ribu hadits dan menjadi rujukan para sahabat dalam banyak soal tradisi perempuan yang berilmu dan mengajar sudah menjadi bagian dari sejarah umat ini.
Allah berfirman dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11: ”…Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
Ayat itu tidak punya catatan kaki yang mengecualikan perempuan.
Kisah Zaynab bint Kamal, Fatima bint Sa’d al-Khayr, dan ratusan nama lain yang tersimpan dalam lembaran-lembaran tua itu adalah pengingat bahwa warisan ilmu Islam dibangun bersama laki-laki dan perempuan, lintas generasi, lintas kota, lintas benua.
Mereka bukan sekadar catatan pinggir dalam sejarah. Mereka adalah sejarah itu sendiri.
Artikel Terkait