Langsung ke konten
Siraah
kisah islam

Kisah Maryam AS: Keteguhan Iman di Tengah Hinaan

Maryam AS adalah perempuan paling mulia yang pernah hidup. Tapi bahkan dia pun pernah menangis sendirian dan berharap tidak pernah ada. Ini kisahnya.

Irwn 1 menit baca
Kisah Maryam AS: Keteguhan Iman di Tengah Hinaan

Kisah Maryam AS: Keteguhan Iman di Tengah Hinaan

Pernah nggak kamu dituduh melakukan sesuatu yang tidak pernah kamu lakukan?

Kamu tahu kamu tidak salah. Tapi tidak ada yang percaya. Dan yang lebih menyakitkan, kamu tidak bisa menjelaskan apapun karena tidak ada yang akan masuk akal bagi mereka.

Kalau pernah, kisah Maryam AS mungkin akan terasa sangat dekat.

Siapa Maryam AS?

Maryam binti Imran bukan tokoh biasa. Rasulullah SAW bersabda bahwa Maryam adalah perempuan terbaik di zamannya. Namanya disebut 34 kali dalam Al-Quran, lebih banyak dari kebanyakan nabi. Bahkan ada satu surah penuh yang dinamai dengan namanya, yaitu surah Maryam.

Tapi yang membuat kisahnya luar biasa bukan hanya statusnya yang tinggi. Justru sebaliknya, kisahnya luar biasa karena dia manusia biasa yang menghadapi ujian yang tidak biasa.

Dipilih Sebelum Lahir

Kisah Maryam dimulai bahkan sebelum dia lahir.

Ibunya, seorang perempuan yang saleh, bernazar saat masih mengandung. Dia berkata kepada Allah, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu apa yang ada dalam kandunganku untuk menjadi hamba yang mengabdi kepada-Mu.” (QS. Ali Imran: 35)

Ini bukan nazar sembarangan. Saat itu, yang biasa dinazarkan untuk mengabdi di Baitulmaqdis adalah anak laki-laki. Ketika lahir perempuan, ibunya sempat kaget. Tapi Allah sudah punya rencana yang jauh lebih besar.

Maryam tumbuh di bawah pengasuhan Nabi Zakariyya AS, pamannya. Dia dikenal sebagai perempuan yang paling tekun beribadah. Bahkan Nabi Zakariyya sendiri heran ketika setiap kali masuk ke mihrabnya, selalu ada makanan di sana. Saat ditanya, Maryam menjawab, “Ini dari Allah. Sungguh, Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.” (QS. Ali Imran: 37)

Bukan perempuan sembarangan.

Ujian yang Tidak Bisa Dijelaskan

Lalu datanglah ujian terbesar dalam hidupnya.

Malaikat Jibril AS datang dalam wujud manusia dan menyampaikan kabar yang mengejutkan, bahwa dia akan mengandung seorang anak. Tanpa suami. Tanpa penjelasan yang akan diterima akal manusia manapun.

Maryam kaget. “Bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal tidak ada seorang laki-laki pun yang menyentuhku dan aku bukan seorang pezina?” (QS. Maryam: 20)

Jibril AS menjawab bahwa ini adalah ketetapan Allah. Dan Maryam menerimanya.

Tapi menerima ketetapan Allah bukan berarti tidak merasakan beratnya.

Sendirian di Bawah Pohon Kurma

Ketika waktu melahirkan tiba, Maryam menyingkir jauh dari kaumnya. Sendirian. Dalam kesakitan fisik yang luar biasa, sambil menanggung beban batin yang tidak kalah beratnya.

Di titik itulah, di bawah pohon kurma, dia mengucapkan kalimat yang mungkin mengejutkan kita:

“Wahai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini dan aku menjadi sesuatu yang tidak diperhatikan dan dilupakan.” (QS. Maryam: 23)

Perempuan terpilih ini, yang sejak kecil hidupnya penuh dengan karamah dari Allah, di titik paling beratnya justru berharap tidak pernah ada.

Ini bukan tanda lemahnya iman. Ini tanda betapa manusiawinya Maryam AS. Dan Al-Quran tidak menyembunyikan momen ini. Allah mengabadikannya, bukan untuk mempermalukan Maryam, tapi untuk menunjukkan kepada kita bahwa bahkan orang paling mulia pun bisa merasakan beratnya ujian.

Pertolongan yang Datang Diam-Diam

Di titik paling rendah itulah, Allah menyapanya.

“Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam: 24-25)

Air. Kurma. Dan kalimat sederhana, jangan bersedih.

Ada sesuatu yang menarik di sini. Allah tidak langsung menjatuhkan kurma begitu saja. Maryam diminta untuk mengguncang pohonnya dulu, meski dalam kondisi baru saja melahirkan dan tubuhnya lemah. Ini bukan beban, ini pelajaran bahwa pertolongan Allah seringkali datang setelah kita mengambil satu langkah kecil duluan.

Sekecil apapun langkah itu.

Ketika Kata-Kata Tidak Cukup

Maryam kembali ke kaumnya dengan bayi di pelukannya.

Reaksi mereka tepat seperti yang dia khawatirkan. “Wahai Maryam, sungguh kamu telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.” (QS. Maryam: 27)

Dan Maryam tidak menjawab apapun.

Bukan karena tidak punya jawaban. Tapi karena Allah sudah memerintahkannya untuk diam dan menunjuk ke bayinya. Dan bayi Isa AS, yang baru saja lahir, berbicara dari buaian untuk membela ibunya.

“Sesungguhnya aku hamba Allah. Dia memberiku Kitab dan Dia menjadikan aku seorang nabi.” (QS. Maryam: 30)

Allah membersihkan nama Maryam dengan cara yang tidak pernah terbayangkan oleh siapapun. Bukan dengan debat. Bukan dengan pembuktian panjang. Tapi dengan mukjizat yang menutup semua mulut sekaligus.

Apa yang Bisa Kita Pelajari

Kisah Maryam AS bukan hanya kisah sejarah. Ada beberapa hal yang sangat relevan untuk kita hari ini.

Pertama, iman tidak kebal dari rasa sakit. Maryam adalah buktinya. Orang yang paling dekat dengan Allah pun bisa menangis, bisa takut, bisa merasa kewalahan. Yang membedakan bukan apakah kamu merasakan sakit itu, tapi apa yang kamu lakukan setelahnya.

Kedua, tidak semua tuduhan perlu dibantah langsung. Ada kalanya diam adalah pilihan paling bijak. Bukan karena kamu lemah, tapi karena kamu percaya Allah yang akan bicara pada waktunya. Maryam mengajarkan ini dengan sangat indah.

Ketiga, pertolongan Allah datang melalui langkah kecil. Guncang pohon kurma itu dulu. Ambil satu langkah kecil, meski terasa berat. Seringkali di situlah pintu pertolongan terbuka.

Keempat, Allah tidak menyembunyikan kelemahan orang-orang pilihan-Nya. Maryam menangis, dan Al-Quran mencatatnya. Ini bukan aib, ini penghiburan bagi kita semua bahwa kita tidak harus selalu kuat untuk tetap dicintai Allah.

Satu Hal untuk Dibawa Pulang

Kalau kamu sedang difitnah, disalahpahami, atau menghadapi sesuatu yang tidak bisa kamu jelaskan kepada siapapun, ingat Maryam AS.

Dia pernah ada di posisi yang jauh lebih berat dari yang kebanyakan kita pernah bayangkan. Sendirian, kesakitan, dituduh hal yang paling buruk bagi seorang perempuan di zamannya. Tapi dia tetap berjalan.

Dan Allah tidak pernah meninggalkannya.

Dia tidak akan meninggalkanmu juga.

Bagikan: Twitter WhatsApp

Artikel Terkait