Langsung ke konten
kisah islam

Kisah Nabi Musa AS: Dibesarkan di Istana Musuh, Dipilih Jadi Pembebas Umatnya

Nabi Musa lahir untuk dibunuh, hanyut ke istana musuhnya, menghabiskan sepuluh tahun menggembalakan ternak, lalu dipilih Allah membebaskan umatnya. Kisah yang mengajarkan bahwa tidak ada satu pun babak hidupmu yang terlewat dari rencana-Nya, bahkan yang terasa paling tidak masuk akal sekalipun.

Irwn · · 8 menit baca
Kisah Nabi Musa AS: Dibesarkan di Istana Musuh, Dipilih Jadi Pembebas Umatnya

Ada kalanya jalan hidup yang Allah siapkan untukmu terlihat sangat tidak masuk akal.

Kamu berada di tempat yang salah. Di lingkungan yang salah. Di tengah orang-orang yang tidak sejalan dengan nilai-nilaimu. Dan kamu bertanya-tanya, kenapa Allah membiarkanmu di sini? Apa hikmahnya?

Kisah Nabi Musa AS menjawab pertanyaan itu dengan cara yang tidak akan pernah kamu bayangkan.


Lahir untuk Dibunuh

Nabi Musa lahir di salah satu masa paling gelap dalam sejarah Bani Israel. Firaun, penguasa Mesir yang mengklaim dirinya sebagai tuhan, memerintahkan semua bayi laki-laki Bani Israel untuk dibunuh saat lahir. Bukan karena mereka melakukan kesalahan. Tapi karena Firaun bermimpi bahwa seorang anak dari kalangan mereka akan menghancurkan kekuasaannya.

Musa lahir tepat di tahun yang salah. Tahun ketika bayi laki-laki harus dibunuh.

Ibunya menyembunyikannya selama beberapa bulan. Tapi semakin lama, semakin sulit untuk merahasiakan keberadaan seorang bayi dari para prajurit Firaun yang terus berpatroli.

Lalu Allah menurunkan wahyu yang terdengar mustahil: “Dan Kami wahyukan kepada ibunya Musa, ‘Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya, maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil) dan jangan kamu takut dan jangan pula bersedih. Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya sebagai salah seorang rasul.’” (QS. Al-Qashash: 7)

Bayangkan posisi ibunya. Ia diminta membuang bayinya sendiri ke sungai, dengan hati yang penuh ketakutan, tapi dengan keyakinan bahwa Allah pasti menepati janji-Nya. Tidak ada yang lebih berat dari itu, dan tidak ada yang membutuhkan keberanian lebih besar dari itu.


Ironi Terbesar dalam Sejarah

Keranjang itu mengalir. Dan berhenti di tepian yang tidak pernah dibayangkan ibunya.

Di depan istana Firaun sendiri.

Salah satu pelayan istana menemukan keranjang itu dan membawanya masuk. Asiyah, istri Firaun, melihat bayi itu dan langsung jatuh cinta. Ia memohon kepada suaminya untuk membiarkan mereka mengadopsi anak itu, dan Firaun setuju.

Firaun, yang memerintahkan pembunuhan ribuan bayi laki-laki Bani Israel karena takut digulingkan, justru membesarkan sendiri orang yang akan menggulingkannya.

Al-Qur’an menyebut ini dengan sangat singkat tapi sangat kuat: “Dan musuh Allah dan musuh mereka pun mengambilnya.” (QS. Al-Qashash: 8) Firaun tidak tahu bahwa ia sedang membesarkan kehancurannya sendiri. Itulah cara Allah merencanakan sesuatu yang jauh di luar jangkauan pikiran manusia.

Tapi di balik semua itu, ada satu detail yang sangat mengharukan.

Allah tidak membiarkan Musa disusui oleh siapapun di istana. Bayi itu menolak semua wanita menyusui yang didatangkan. Sampai kakaknya, yang diam-diam mengikuti keranjang itu sejak awal, menawarkan satu nama kepada istana. Dan nama itu adalah ibunya sendiri.

“Maka Kami kembalikan dia kepada ibunya, agar senang hatinya dan tidak bersedih…” (QS. Al-Qashash: 13)

Firaun membayar ibunda Musa untuk menyusui anak yang ia takutkan. Allah mengembalikan ibu dan anak itu, di bawah hidung musuh yang paling kejam sekalipun.


Tumbuh dengan Dua Identitas

Musa tumbuh besar di istana Firaun. Ia makan dari meja yang sama, tinggal di bawah atap yang sama, menikmati kemewahan yang sama dengan keluarga penguasa Mesir. Tapi di dalam darahnya mengalir warisan Bani Israel.

Ia tahu siapa dirinya. Ia tahu kepada siapa ia berasal.

Dan ketika suatu hari ia menyaksikan seorang laki-laki dari Bani Israel diperlakukan dengan semena-mena oleh orang Mesir, instingnya untuk membela yang lemah lebih kuat dari perhitungan politiknya.

Ia memukul orang Mesir itu. Orang itu meninggal. Dan Musa harus melarikan diri dari Mesir, meninggalkan semua kenyamanan istana, dengan status sebagai buronan.

“Maka keluarlah dia dari kota itu dengan rasa takut, waspada. Dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim.’” (QS. Al-Qashash: 21)

Dari anak angkat penguasa Mesir menjadi buronan yang ketakutan, berjalan kaki sendirian menuju tanah yang tidak ia kenal, tanpa bekal yang cukup.


Sepuluh Tahun yang Tidak Terlihat Sebagai Persiapan

Musa akhirnya sampai di Madyan. Di sana ia bertemu dua perempuan yang kesulitan memberi minum ternak mereka karena terlalu banyak laki-laki di sumur. Ia membantu tanpa diminta, dan tanpa mengharapkan imbalan.

Satu kebaikan kecil itu membuka jalan hidupnya yang baru. Ayah kedua perempuan itu mengundangnya tinggal, dan akhirnya menikahkannya dengan salah satu dari mereka, dengan mahar berupa penggembalaan ternak selama delapan hingga sepuluh tahun.

Bagi siapapun yang melihat dari luar, sepuluh tahun menggembalakan ternak di pedalaman Madyan terdengar seperti pembuangan. Seperti hidup yang sia-sia. Seperti mimpi yang sudah hancur.

Tapi ini adalah sekolah yang Allah rancang khusus untuk Musa. Kesabaran. Kerendahan hati. Kemandirian. Kemampuan memimpin. Semua itu tidak bisa dipelajari di istana yang serba dilayani. Hanya bisa dipelajari di padang yang sepi, bersama ternak, dengan waktu yang terasa sangat panjang.

Allah tidak pernah membuang waktu hamba-Nya yang sedang dalam masa menunggu. Ia sedang menyiapkan.


Semak Belukar yang Menyapa

Suatu hari, dalam perjalanan pulang, Musa melihat api dari kejauhan. Ia mendekatinya untuk mengambil sedikit bara, atau setidaknya untuk mengetahui arah.

Tapi yang ia temukan bukan sekadar api.

“Ketika dia sampai di sana, dia dipanggil, ‘Wahai Musa! Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu, maka lepaskanlah kedua terompahmu. Sungguh, engkau berada di lembah yang suci, Tuwa.’” (QS. Thaha: 11-12)

Di padang yang sepi itu, tanpa saksi siapapun, tanpa upacara besar, tanpa persiapan yang panjang, Allah memilih Musa sebagai nabi dan rasul-Nya. Dan perintah pertama-Nya adalah kembali ke tempat yang ia tinggalkan.

Kembali ke Mesir. Kembali menghadap Firaun.

Musa tidak menyembunyikan rasa takutnya. Ia mengakui kelemahannya. Ia memohon agar saudaranya, Harun, diizinkan menemaninya karena lidah Harun lebih fasih berbicara.

Dan Allah mengabulkannya.

Keberanian sejati bukan berarti tidak takut. Keberanian sejati adalah pergi meski takut, karena tahu siapa yang menyuruhmu pergi.


Kembali Menghadap Musuh Lama

Musa kembali ke istana yang dulu membesarkannya. Tapi kali ini bukan sebagai anak angkat. Melainkan sebagai utusan Allah yang datang dengan satu pesan: bebaskan Bani Israel.

Firaun menertawai. Ia mengingatkan Musa akan semua jasa yang telah ia berikan selama membesarkannya. Ia mengumpulkan ahli sihir terbaik dari seluruh penjuru kerajaannya untuk mengalahkan mukjizat yang dibawa Musa.

Tapi yang terjadi kemudian adalah sesuatu yang tidak diperhitungkan Firaun. Para ahli sihir itu, begitu menyaksikan mukjizat tongkat Musa, langsung bersujud. Mereka yang paling tahu tentang sihir adalah yang pertama menyadari bahwa apa yang dilakukan Musa sama sekali bukan sihir.

Mereka beriman kepada Allah di hadapan Firaun sendiri, meski tahu konsekuensinya bisa berupa kematian. Dan keimanan yang lahir dari kesadaran yang dalam seperti itu tidak bisa dicabut oleh ancaman siapapun.


Ketika Laut Ada di Depan, Musuh Ada di Belakang

Setelah rentetan bencana yang Allah kirimkan kepada Mesir, Bani Israel akhirnya diizinkan pergi. Tapi Firaun yang tidak pernah benar-benar ikhlas melepaskan mereka, justru mengerahkan seluruh pasukannya untuk mengejar.

Bani Israel terjebak. Laut di depan, pasukan terkuat di dunia di belakang. Tidak ada jalan keluar yang masuk akal secara manusiawi.

Orang-orang di sekitar Musa mulai panik: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.” (QS. Asy-Syu’ara: 61)

Tapi Musa menjawab sesuatu yang hanya bisa diucapkan oleh seseorang yang keyakinannya sudah sangat dalam: “Sekali-kali tidak. Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. Asy-Syu’ara: 62)

Ketika semua opsi sudah tertutup di mata manusia, Allah membuka yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Laut terbelah. Dua belas jalan muncul di tengah air. Bani Israel menyeberang dengan selamat. Dan ketika Firaun beserta pasukannya mengikuti, air kembali menutup.

Kesombongan Firaun yang selama puluhan tahun tidak bisa digoyahkan oleh siapapun, berakhir di dasar laut.


Apa yang Bisa Kamu Bawa dari Kisah Ini

Musa tidak memilih untuk lahir di keluarga yang terancam. Tidak memilih untuk hanyut ke istana musuh. Tidak memilih menghabiskan sepuluh tahun menggembalakan ternak di pedalaman. Tidak memilih momen ketika api itu muncul di kejauhan.

Semua itu adalah rencana Allah. Dan Musa hanya diminta satu hal di setiap babaknya: bergerak sesuai perintah-Nya, meski tidak selalu mengerti ke mana semua ini menuju.

Kalau kamu hari ini merasa berada di tempat yang salah, di lingkungan yang tidak mendukung, di masa tunggu yang terasa terlalu panjang, kisah Musa mengajarkan bahwa tidak ada satu pun posisi yang kamu berada di dalamnya terlewat dari rencana Allah.

Istana musuh pun bisa menjadi sekolah terbaik. Padang penggembala pun bisa menjadi tempat paling penting sebelum misi terbesar hidupmu dimulai.

Yang Allah minta hanya satu: tetap percaya bahwa Ia tahu apa yang sedang Ia siapkan untukmu, meski kamu belum bisa melihatnya sekarang. Ini bukan berbeda jauh dari apa yang dialami Nabi Yusuf AS, yang dibuang ke dalam sumur oleh saudaranya sendiri sebelum akhirnya menjadi pemimpin besar Mesir. Keduanya mengajarkan bahwa rencana Allah bekerja jauh di luar batas dugaan manusia.

Dan ketika jalan terasa benar-benar buntu, ingatlah Musa yang berdiri di tepi laut dengan pasukan di belakangnya dan dengan yakin berkata: Tuhanku bersamaku. Kalimat yang sama, dalam nuansa berbeda, juga Allah bisikkan kepada Nabi kita di dalam gua yang gelap ketika dikejar musuh, sebagaimana yang diabadikan dalam ayat La Tahzan, jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.


Artikel ini merangkum kisah Nabi Musa AS berdasarkan beberapa surah dalam Al-Qur’an, terutama Surat Al-Qashash, Surat Thaha, dan Surat Asy-Syu’ara, beserta tafsirnya.

Bagikan

Baca Juga