Langsung ke konten
kisah islam

Kisah Nabi Nuh AS: 950 Tahun Berdakwah, Hanya 80 Orang yang Percaya

Sembilan ratus lima puluh tahun berdakwah, namun hanya delapan puluh orang yang beriman, termasuk anaknya sendiri yang menolak naik ke bahtera. Kisah Nabi Nuh AS mengajarkan bahwa nilai sebuah usaha tidak diukur dari hasil, tapi dari ketekunan menjalankannya.

Irwn · · 7 menit baca
Kisah Nabi Nuh AS: 950 Tahun Berdakwah, Hanya 80 Orang yang Percaya

Bayangkan kamu mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh selama sepuluh tahun, tapi hasilnya nyaris tidak terlihat.

Sekarang kalikan itu sembilan puluh lima kali lipat.

Itulah yang dialami Nabi Nuh AS. Allah berfirman dalam QS. Al-Ankabut ayat 14: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun.”

Sembilan ratus lima puluh tahun berdakwah. Dan menurut riwayat dari Ibnu Katsir, di akhir masa dakwahnya yang sedemikian panjang, jumlah orang yang beriman kepadanya tidak lebih dari delapan puluh orang.

Kalau ada kisah yang berbicara langsung kepada siapa pun yang pernah merasa usahanya sia-sia, inilah kisahnya.


Dakwah yang Dimulai dari Kerusakan Tauhid

Nuh diutus kepada kaum yang sebenarnya berawal dari keimanan yang murni. Generasi awal setelah Nabi Adam AS menyembah Allah semata. Tapi seiring waktu, mereka mulai membuat patung untuk mengenang orang-orang saleh yang telah wafat, dengan niat awal sekadar mengingat kebaikan mereka.

Niat baik itu perlahan bergeser menjadi penyembahan berhala. Patung-patung yang tadinya simbol pengingat berubah menjadi sesembahan. Lima nama yang disebutkan dalam Al-Qur’an, yaitu Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr, menjadi berhala-berhala besar yang disembah kaum Nuh.

Allah mengutus Nuh untuk mengembalikan mereka kepada tauhid, penyembahan kepada Allah semata. Dan dari sinilah dimulai salah satu perjuangan dakwah terpanjang dalam sejarah kenabian.


Strategi Dakwah yang Tidak Pernah Berhenti Berubah

Yang menarik dari kisah Nuh adalah bagaimana Allah menggambarkan ketekunannya dalam berdakwah, bukan hanya soal durasi waktu, tapi juga soal variasi metode yang ia coba.

Nuh sendiri menceritakan strategi dakwahnya kepada Allah, sebagaimana diabadikan dalam Surat Nuh: “Aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).” (QS. Nuh: 5-6)

Ia tidak berhenti di satu pendekatan. Ia berdakwah secara terbuka di hadapan umum. Ia berdakwah secara personal dari rumah ke rumah. Ia mencoba pendekatan yang lembut, penuh kasih, mengingatkan nikmat-nikmat Allah. Ia juga mencoba pendekatan yang tegas, memperingatkan akan azab.

Allah mencatat kegigihan metode dakwah Nuh ini: “Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka secara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku menyeru mereka secara terang-terangan dan secara diam-diam.” (QS. Nuh: 8-9)

Sembilan ratus lima puluh tahun bukan dihabiskan dengan satu strategi yang sama berulang-ulang. Nuh terus beradaptasi, terus mencoba, terus berusaha menemukan cara yang bisa menyentuh hati kaumnya. Inilah ketekunan dalam makna yang paling utuh: bukan sekadar bertahan, tapi terus berikhtiar dengan cara-cara baru.


Ditertawakan Setiap Kali Membangun Bahtera

Setelah ratusan tahun berdakwah dan hampir tidak ada lagi harapan kaumnya akan beriman, Allah memerintahkan Nuh untuk membangun sebuah kapal besar.

Bayangkan betapa anehnya perintah ini di mata orang-orang sekitarnya. Mereka tinggal jauh dari laut. Tidak ada tanda-tanda banjir akan datang. Dan di sinilah seorang nabi tua, membangun kapal raksasa di tengah daratan kering.

Allah menggambarkan reaksi kaumnya dalam QS. Hud ayat 38: “Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewatinya, mereka mengejeknya.”

Nuh menjawab ejekan itu dengan kalimat yang sangat tenang: “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami pun mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami).” (QS. Hud: 38)

Bukan ejekan balasan yang penuh amarah. Tapi sebuah peringatan tenang bahwa kelak posisi mereka akan berbalik. Yang sekarang menertawakan, akan menjadi yang ditertawakan oleh keadaan mereka sendiri ketika azab datang.


Kepedihan yang Paling Personal: Anak Sendiri Menolak Naik Kapal

Dari seluruh kisah Nuh, ada satu momen yang paling menyayat hati: ketika banjir besar mulai datang, dan anaknya sendiri menolak naik ke bahtera.

Nuh berseru kepada anaknya: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah.” Nuh menjawab: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (Yang Maha Penyayang) yang dirahmati-Nya.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya, maka jadilah anak itu salah seorang dari orang-orang yang ditenggelamkan. (QS. Hud: 42-43)

Bayangkan posisi Nuh saat itu. Setelah sembilan ratus lima puluh tahun berdakwah kepada orang lain, ujian terberatnya justru datang dari anak kandungnya sendiri yang menolak untuk percaya.

Nuh, dalam kesedihan yang sangat manusiawi, memohon kepada Allah karena ia menganggap anaknya termasuk keluarganya yang dijanjikan keselamatan. Tapi Allah menegurnya dengan lembut namun tegas: “Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, sesungguhnya perbuatannya tidak baik.” (QS. Hud: 46)

Ini adalah pelajaran yang sangat dalam: hubungan darah tidak menjamin keselamatan iman. Bahkan keluarga nabi sekalipun, jika tidak memilih beriman, tetap berada di luar jaminan keselamatan yang dijanjikan kepada orang-orang yang percaya.


Hasil yang Sangat Sedikit, Tapi Bukan Berarti Sia-sia

Setelah hampir seribu tahun berdakwah, jumlah pengikut Nuh yang beriman sangat kecil. Riwayat dari Ibnu Katsir menyebutkan tidak lebih dari delapan puluh orang.

Ini menimbulkan pertanyaan yang sangat manusiawi: apakah dakwah Nuh gagal?

Jawabannya, dengan tegas: tidak. Justru sebaliknya, kisah Nuh menjadi salah satu bukti paling kuat dalam Al-Qur’an bahwa keberhasilan dakwah tidak diukur dari jumlah pengikut, tapi dari ketekunan dan ketaatan dalam menjalankan perintah Allah.

Nuh termasuk dalam golongan Ulul Azmi, lima rasul dengan keteguhan hati paling tinggi dalam sejarah kenabian, justru karena kesabarannya menghadapi penolakan yang begitu lama tanpa pernah menyerah atau berhenti berdakwah.

Allah tidak menilai Nuh berdasarkan berapa banyak orang yang berhasil ia ubah. Allah menilainya berdasarkan seberapa setia ia menjalankan amanah yang diberikan kepadanya, terlepas dari hasil yang ia lihat dengan matanya sendiri.


Pelajaran untuk Kamu yang Merasa Usahamu Sia-sia

Kisah Nuh sangat relevan untuk siapa pun yang sedang merasa lelah karena usahanya tidak membuahkan hasil yang terlihat.

Mungkin kamu sudah mendidik anak dengan sungguh-sungguh, tapi hasilnya belum terlihat seperti yang kamu harapkan. Mungkin kamu sudah berdakwah kepada keluarga atau teman, tapi mereka tetap pada pendiriannya. Mungkin kamu sudah berusaha keras dalam pekerjaan atau usaha, tapi hasilnya jauh dari yang kamu bayangkan.

Kisah Nuh mengajarkan bahwa nilai dari sebuah usaha tidak ditentukan oleh hasil akhirnya semata, tapi oleh ketekunan dan ketulusan dalam prosesnya. Hal ini sejalan dengan apa yang kita pelajari dari perjalanan Nabi Musa AS bersama Khidir, di mana hikmah Allah sering kali tersembunyi jauh di balik apa yang tampak di permukaan, dan baru terungkap pada waktu yang Allah tentukan sendiri.

Nuh tidak pernah tahu bahwa kisahnya akan diceritakan dan dipelajari oleh miliaran manusia, ribuan tahun setelah ia wafat. Dari sudut pandangnya saat itu, dakwahnya mungkin terasa seperti kegagalan total. Tapi dari sudut pandang Allah, dan dari sudut pandang sejarah, kesabarannya menjadi salah satu pelajaran paling berharga yang pernah diwariskan kepada umat manusia.


Ketika Keluarga Sendiri Tidak Sejalan dengan Nilai yang Kita Pegang

Ada satu pelajaran lain dari kisah ini yang sangat relevan untuk kehidupan keluarga hari ini.

Nuh telah berusaha maksimal mendidik dan mengajak anaknya. Tapi pada akhirnya, pilihan untuk beriman tetap berada di tangan anak itu sendiri, bukan sepenuhnya di tangan orang tuanya, sekalipun orang tuanya seorang nabi.

Ini bukan alasan untuk berhenti berusaha mendidik keluarga dengan sebaik-baiknya. Tapi ini adalah pengingat penting bagi setiap orang tua: usaha terbaik sekalipun tidak menjamin hasil yang kita inginkan, karena hidayah pada akhirnya adalah hak prerogatif Allah. Yang menjadi tanggung jawab kita hanyalah berusaha dengan sungguh-sungguh, sebagaimana yang juga kita bahas ketika membicarakan pentingnya kehadiran dan kelekatan orang tua dalam membangun fondasi keimanan anak sejak dini.


Bahtera yang Menyelamatkan, Penanda Awal yang Baru

Setelah banjir besar mereda, bahtera Nuh akhirnya berlabuh, dan kehidupan di bumi dimulai kembali dari mereka yang beriman.

Allah berfirman dalam QS. Hud ayat 48: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami atasmu.”

Setelah hampir seribu tahun penantian, perjuangan, dan kesabaran yang nyaris tidak terbayangkan oleh manusia biasa, Allah memberikan keselamatan dan keberkahan kepada Nuh dan orang-orang yang mengikutinya.

Kisah ini menutup dengan pesan yang sangat jelas: ketekunan dalam kebenaran, betapapun lama waktunya dan betapapun sedikit hasil yang terlihat, pada akhirnya akan dijaga dan diberkahi oleh Allah.

Kalau hari ini kamu sedang berjuang dengan sesuatu yang terasa tidak kunjung membuahkan hasil, ingatlah Nuh yang menghabiskan hampir sembilan ratus lima puluh tahun usianya untuk satu tujuan, dengan hasil yang menurut ukuran manusia sangat kecil. Tapi di sisi Allah, ketekunan itu tidak pernah dianggap sia-sia.


Artikel ini merangkum kisah Nabi Nuh AS berdasarkan beberapa surah dalam Al-Qur’an, termasuk Surat Nuh, Surat Hud, dan Surat Al-Ankabut, beserta tafsirnya.

Bagikan

Baca Juga