Al-Jabbar: Nama Allah untuk Hati yang Patah dan Hidup yang Hancur
Sedang merasa hancur dan tidak tahu harus ke mana? Kenali Al-Jabbar, nama Allah yang berarti Sang Pemulih hati yang patah. Dari kisah Nabi di Thaif hingga doa di antara dua sujud, inilah obat untuk jiwa yang sedang retak.
Ada momen dalam hidup yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Ketika mimpi yang sudah dibangun bertahun-tahun runtuh dalam satu malam. Ketika orang yang paling kamu cintai pergi dan tidak kembali. Ketika tubuhmu sakit dan dokter angkat tangan. Ketika kamu sudah berusaha keras, tapi hasilnya tetap mengecewakan.
Di saat seperti itu, kita sering tidak tahu harus membawa kepedihan ini ke mana.
Tapi Al-Qur’an sudah memberikan jawabannya, jauh sebelum kita bertanya. Dan jawabannya tersimpan dalam satu nama Allah yang sering kita lewati begitu saja: Al-Jabbar.
Nama yang Hanya Disebut Sekali
Al-Jabbar disebutkan hanya satu kali dalam Al-Qur’an, dalam QS. Al-Hasyr ayat 23:
“Dialah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Maha Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa (Al-Jabbar), Yang Memiliki Segala Keagungan.”
Satu kali. Tapi maknanya luar biasa dalam.
Kebanyakan orang mengenal Al-Jabbar hanya dari terjemahan yang paling umum: Yang Maha Memaksa atau Yang Maha Kuasa. Dan memang benar, salah satu makna Al-Jabbar adalah bahwa Allah menetapkan kehendak-Nya tanpa ada yang bisa menghalangi atau menentang-Nya.
Tapi di sinilah yang sering terlewat: makna Al-Jabbar yang lain, yang jauh lebih menyentuh hati.
Akar Kata yang Menyembuhkan
Kata Al-Jabbar berasal dari akar kata Arab ja-ba-ra, yang dalam bahasa Arab klasik memiliki spektrum makna yang luas.
Salah satunya adalah: memulihkan sesuatu yang rusak ke kondisi yang baik dan benar.
Dari akar kata yang sama lahir kata jibeera, yang artinya gips atau bidai, alat yang digunakan untuk membantu tulang yang patah agar bisa kembali menyatu.
Bayangkan itu. Al-Jabbar adalah gips untuk hati yang patah.
Para ulama terdahulu memahami ini dengan sangat indah. Mereka biasa berdoa dengan kalimat: “Ya Jabira kulli kasir”, yang artinya: “Wahai Dzat yang menyembuhkan segala yang patah.”
Bukan hanya tulang. Bukan hanya tubuh. Tapi segala yang patah. Termasuk hati. Termasuk mimpi. Termasuk kepercayaan diri yang hancur. Termasuk hubungan yang retak.
Kisah Nabi di Thaif: Ketika Al-Jabbar Hadir
Kalau kamu ingin melihat bagaimana Al-Jabbar bekerja, lihat apa yang terjadi kepada Nabi Muhammad setelah peristiwa di Thaif.
Di usia lima puluh tahun, Nabi kehilangan dua orang yang paling ia cintai dalam waktu berdekatan: Khadijah, istri tercinta yang menemaninya selama dua puluh lima tahun, dan Abu Thalib, paman yang selalu melindunginya. Tahun itu disebut Aamul Huzn, Tahun Kesedihan.
Lalu beliau pergi ke Thaif untuk mencari perlindungan dan dukungan. Tapi penduduk Thaif menolak, mengusir, bahkan memerintahkan anak-anak dan budak untuk melempari beliau dengan batu hingga kedua kakinya berdarah.
Nabi yang mulia itu berjalan keluar dari Thaif dalam kondisi terluka, sendirian, dan patah hati.
Doa yang beliau panjatkan saat itu bukan sebuah permohonan yang rapi dan terstruktur. Itu adalah jeritan hati seseorang yang benar-benar hancur, mengadukan kepedihan dan kelemahan dirinya kepada Allah.
Lalu apa yang Al-Jabbar lakukan?
Dia mengirim seorang anak muda bernama Addas, yang melihat Nabi, mendatanginya dengan membawa anggur, dan mencium kaki beliau yang berdarah.
Satu gestur kecil dari seorang manusia biasa. Tapi di situlah Al-Jabbar bekerja, melalui tangan seorang hamba yang tidak disangka-sangka.
Dan tidak berhenti di situ. Tidak lama setelah peristiwa Thaif yang menyakitkan, Allah menganugerahkan kepada Nabi peristiwa paling agung dalam hidupnya: Isra’ dan Mi’raj, perjalanan malam yang membawa beliau langsung ke hadirat Allah.
Thaif yang menghancurkan. Mi’raj yang memuliakan.
Begitulah cara Al-Jabbar bekerja. Ia tidak hanya menutup luka. Ia sering menggantikan yang hilang dengan sesuatu yang jauh lebih besar.
Doa yang Terselip di Antara Dua Sujud
Ada satu tempat dalam shalat yang sangat istimewa: duduk di antara dua sujud.
Di sanalah Nabi Muhammad mengajarkan doa yang mengandung nama Al-Jabbar secara tersembunyi:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاجْبُرْنِي وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي
Allahummagh-fir lii, war-hamnii, waj-burnii, wah-dinii, war-zuqnii
“Ya Allah, ampunilah aku, sayangilah aku, perbaikilah keadaanku, tunjukilah aku, dan berilah aku rezeki.”
Kata waj-burnii di sana, “perbaikilah keadaanku,” berasal dari akar kata yang sama dengan Al-Jabbar.
Lima kali sehari, dalam setiap shalat, kita sebenarnya sudah memohon kepada Al-Jabbar untuk menyembuhkan dan memulihkan kita. Hanya saja mungkin kita belum menyadarinya.
Ketika Allah Menyembuhkan dengan Cara yang Tak Terduga
Salah satu hal yang paling menakjubkan dari Al-Jabbar adalah cara Dia bekerja.
Dia tidak selalu menyembuhkan dengan cara yang kamu minta. Tapi Dia selalu menyembuhkan dengan cara yang terbaik.
Seseorang kehilangan pekerjaan yang sangat ia cintai. Berbulan-bulan ia berdoa agar bisa kembali ke pekerjaan itu. Al-Jabbar tidak mengembalikan pekerjaan itu. Tapi dua tahun kemudian, ia mendapatkan karir yang jauh lebih baik, yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Seseorang kehilangan orang yang ia cintai. Ia berdoa agar kesedihannya hilang cepat. Al-Jabbar tidak menghilangkan kesedihan itu dengan instan. Tapi dari kesedihan itu lahir kedekatan dengan Allah yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, dan rasa empati yang membuat ia bisa menolong orang-orang lain yang berduka.
Al-Jabbar tidak memperbaiki dengan cara yang kita tulis di daftar keinginan. Ia memperbaiki dengan cara yang Dia, Yang Maha Mengetahui, ketahui sebagai yang terbaik.
Untuk Kamu yang Sedang Merasa Hancur
Kalau hari ini kamu sedang dalam keadaan yang terasa berantakan, ada satu hal yang perlu kamu pegang erat.
Allah menamai diri-Nya Al-Jabbar. Bukan karena Dia ingin terdengar kuat. Tapi karena Dia ingin kamu tahu bahwa ada Dzat yang spesialisasinya adalah memulihkan yang patah.
Tidak ada yang terlalu hancur untuk diperbaiki oleh Al-Jabbar. Tidak ada luka yang terlalu dalam. Tidak ada situasi yang terlalu rumit. Tidak ada mimpi yang terlalu remuk untuk dibangkitkan lagi.
Yang Dia minta hanya satu: datang kepada-Nya.
Bukan dengan keadaan yang sempurna. Bukan setelah kamu berhasil merapikan hidupmu. Tapi datang apa adanya, dengan segala kepecahan itu, seperti Nabi yang berjalan keluar dari Thaif dengan kaki berdarah dan hati yang berat, lalu mengadu kepada Allah dengan jujur.
Karena justru di saat kamu merasa paling hancur itulah, Al-Jabbar paling dekat.
Cara Mendekat kepada Al-Jabbar
Ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan untuk menghidupkan nama ini dalam keseharian:
Pertama, hafalkan doa di antara dua sujud dan sadari maknanya. Setiap kali mengucapkan waj-burnii, rasakan bahwa kamu sedang memohon kepada Al-Jabbar untuk memulihkan keadaanmu.
Kedua, ketika menghadapi sesuatu yang terasa hancur, coba panggil nama ini dalam doamu secara langsung: “Ya Jabira kulli kasir, perbaikilah apa yang patah dalam hidupku.” Para ulama mengajarkan bahwa memanggil Allah dengan nama-Nya yang relevan dengan situasi kita adalah cara berdoa yang sangat mustajab.
Ketiga, berhentilah mengira bahwa kamu harus datang kepada Allah dalam keadaan baik-baik saja. Al-Jabbar bukan nama untuk orang yang sudah pulih. Ia adalah nama untuk orang yang sedang dalam proses dipulihkan.
Tidak Ada yang Terlalu Patah
Sejarah Islam penuh dengan kisah orang-orang yang hidupnya terasa hancur, lalu dipulihkan oleh Al-Jabbar dengan cara yang tidak pernah mereka bayangkan.
Nabi Ayyub yang sakit bertahun-tahun. Nabi Yusuf yang dibuang ke sumur dan dijual sebagai budak. Ummu Salamah yang terpisah dari suami dan anak saat hijrah. Mereka semua melewati masa-masa yang tampaknya tidak mungkin pulih.
Tapi Al-Jabbar tidak mengenal kata tidak mungkin.
Karena dari akar kata yang sama dengan nama-Nya, lahir kata yang maknanya: memulihkan sesuatu ke kondisi yang lebih baik dari sebelumnya.
Bukan sekadar kembali seperti semula. Tapi menjadi lebih baik dari sebelum patah.
Artikel ini adalah pengantar untuk mengenal salah satu nama Allah yang indah. Untuk pendalaman lebih lanjut tentang Asmaul Husna dan cara mengamalkannya dalam kehidupan, kamu bisa merujuk kepada kajian ulama terpercaya atau kitab-kitab tentang Asmaul Husna.
Baca Juga