Langsung ke konten
keluarga muslim

Jadi Muslim di Negara yang 99% Bukan Muslim, Apa Rasanya?

Dari 420 ribu Muslim di Jepang, cuma ada 7 masjid. Ini kisah dan pelajaran ketangguhan iman dari mereka yang jadi minoritas ekstrem.

Irwn · · 7 menit baca
Jadi Muslim di Negara yang 99% Bukan Muslim, Apa Rasanya?

Bayangkan kamu ingin shalat Jumat, tapi masjid terdekat jaraknya dua jam perjalanan kereta. Bayangkan kamu ingin beli daging di supermarket, tapi harus membaca label dengan teliti, karena hampir semua yang dijual mengandung bahan yang tidak jelas kehalalannya. Bayangkan kamu satu-satunya orang berhijab di kantor, di sekolah, bahkan di seluruh lingkungan tempat tinggalmu.

Ini bukan skenario fiksi. Ini kehidupan sehari-hari ratusan ribu Muslim yang tinggal di Jepang, negara di mana jumlah Muslim tidak sampai setengah persen dari total populasi.

Angka yang Bikin Kita Berhenti Sejenak

Data terbaru menunjukkan jumlah Muslim di Jepang melonjak dari sekitar 230 ribu jiwa pada 2020, menjadi sekitar 420 ribu jiwa pada 2025. Pertumbuhannya cepat, tapi bandingkan dengan fasilitas yang tersedia: hanya ada tujuh masjid di seluruh Jepang, padahal idealnya satu masjid menampung sekitar 200 jamaah. Dari 420 ribu Muslim itu, separuhnya adalah warga negara Indonesia yang bekerja atau menempuh pendidikan di sana.

Coba bayangkan skalanya. Di Indonesia, mencari masjid untuk shalat Jumat itu semudah berjalan kaki beberapa menit, hampir di setiap sudut kota. Di Jepang, tujuh masjid ini harus melayani ratusan ribu Muslim yang tersebar di seluruh negeri, dari Hokkaido di utara sampai Okinawa di selatan.

Kisah yang Membuat Kita Merenung

Sensei Sugimoto, seorang mualaf asal Jepang, pernah menceritakan pengalamannya setelah bersyahadat. Ia mengaku menghadapi banyak tantangan dalam menjalankan kehidupan sebagai Muslim baru, mulai dari sulitnya mencari makanan halal, tempat ibadah, sampai guru yang bisa membimbingnya belajar agama. Saking seriusnya mencari ilmu, ia sampai memutuskan kuliah lagi di Malaysia, demi bisa belajar Islam secara lebih mendalam dan menemukan lingkungan yang mendukung.

Ini bukan cerita satu orang saja. Banyak Muslim di Jepang, baik pendatang maupun mualaf lokal, menghadapi pola yang serupa. Kesulitan mencari makanan halal yang meyakinkan, minimnya tempat shalat di ruang publik, sampai kekhawatiran soal pendidikan agama untuk anak-anak mereka, sampai-sampai beberapa keluarga terpaksa mengirim anaknya belajar ke luar negeri karena fasilitas pendidikan Islam yang memadai masih sangat terbatas di sana.

Ternyata Fenomena Ini Sudah Diprediksi Berabad-Abad Lalu

Ada satu hadits yang sangat relevan untuk merenungkan kondisi ini, dan menariknya, hadits ini justru mengubah cara pandang kita soal apa artinya jadi minoritas. Rasulullah ﷺ bersabda dalam riwayat Muslim, bahwa Islam mulanya datang dalam keadaan asing, dan kelak akan kembali menjadi asing sebagaimana awal kemunculannya. Maka, kata beliau, beruntunglah orang-orang yang asing itu.

Kata “asing” atau ghuraba di sini bukan berarti mereka salah atau tersesat. Justru sebaliknya. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa orang-orang yang terasing ini mendapat pujian khusus dari Allah justru karena jumlah mereka yang minoritas di tengah mayoritas yang berbeda keyakinan atau berbeda tingkat komitmen dalam menjalankan agama.

Bayangkan, hadits ini disampaikan Rasulullah ﷺ empat belas abad lalu, jauh sebelum ada negara bernama Jepang yang punya penduduk Muslim. Tapi gambarannya persis menjelaskan apa yang dialami saudara-saudara kita di sana hari ini. Minoritas bukan tanda kelemahan iman. Justru, mempertahankan iman di tengah keterasingan itulah yang mendapat kedudukan istimewa di sisi Allah.

Kenapa Justru Ini yang Bisa Membuat Iman Lebih Kokoh

Ada satu hal menarik yang dipelajari dari kajian psikologi keagamaan tentang komunitas minoritas Muslim. Ketika seseorang harus terus-menerus mempertahankan identitas keagamaannya di tengah lingkungan yang tidak mendukung, secara tidak langsung dia dipaksa untuk memahami betul apa yang dia yakini, bukan sekadar ikut-ikutan kebiasaan lingkungan sekitarnya.

Berbeda dengan situasi ketika mayoritas orang di sekitarmu Muslim. Shalat, puasa, atau menutup aurat terasa seperti sesuatu yang mengalir begitu saja, mengikuti arus lingkungan. Tapi bagi Muslim yang hidup sebagai minoritas ekstrem, setiap keputusan untuk tetap shalat tepat waktu, tetap mencari makanan halal meski harus berkeliling jauh, tetap berhijab meski jadi satu-satunya yang berbeda, itu semua adalah pilihan sadar yang diambil berulang kali setiap hari, bukan sekadar ikut arus.

Inilah kenapa ketangguhan iman Muslim minoritas sering terasa lebih dalam. Bukan karena mereka lebih hebat secara alami, tapi karena keadaan memaksa mereka untuk terus memilih, bukan sekadar mengikuti kebiasaan yang sudah tersedia.

Refleksi untuk Kita yang Hidup di Negara Mayoritas Muslim

Ini bagian yang perlu jujur direnungkan. Di Indonesia, kita dikelilingi azan lima kali sehari, makanan halal ada di mana-mana, dan menjadi Muslim adalah hal yang lumrah, bukan sesuatu yang perlu dijelaskan atau dipertahankan. Tapi kemudahan ini kadang justru membuat sebagian dari kita jadi kendor, shalat ditunda-tunda karena “nanti juga bisa”, puasa Senin Kamis terasa berat padahal fasilitasnya jauh lebih mudah dibanding saudara kita di Jepang yang harus mengatur ulang jadwal kerja dan sekolah demi bisa berpuasa dengan tenang.

Kalau kamu sedang berjuang membangun kembali semangat ibadah yang mulai kendor, mungkin ini saatnya belajar dari mereka yang justru harus berjuang lebih keras di tengah keterbatasan. Kamu bisa membaca lebih dalam soal bagaimana membangun ketangguhan iman sejak dini, bahkan di tengah rasa malu atau tekanan lingkungan, karena prinsip yang sama berlaku, baik untuk anak-anak yang belajar percaya diri dengan identitas Muslimnya, maupun untuk kita yang dewasa dan justru lebih mudah lupa bersyukur karena semuanya terasa serba mudah.

Bagaimana Kita Bisa Ikut Berkontribusi

Bukan berarti kita cuma bisa merenung dari jauh. Ada beberapa hal konkret yang bisa dilakukan untuk mendukung saudara-saudara Muslim yang hidup sebagai minoritas, termasuk di Jepang.

Kalau kamu punya kesempatan, dukung lembaga atau yayasan yang aktif membangun fasilitas ibadah dan pendidikan Islam di negara-negara minoritas Muslim, lewat donasi atau sekadar menyebarkan informasi soal kebutuhan mereka. Pembangunan masjid dan pusat kegiatan Islam di sana masih sangat membutuhkan dukungan, mengingat rasio masjid dan jumlah jamaah yang jauh dari ideal.

Kalau kamu punya kerabat atau kenalan yang tinggal di negara minoritas Muslim, sesekali tanyakan kabar mereka soal bagaimana mereka menjalankan ibadah di sana. Bukan sekadar basa-basi, tapi juga untuk mengingatkan diri sendiri bahwa kemudahan yang kita rasakan setiap hari bukan hal yang seharusnya dianggap biasa saja.

Dan yang paling penting, jadikan kisah mereka sebagai pengingat untuk diri sendiri. Kalau mereka yang serba terbatas saja bisa tetap istiqamah, apa alasan kita yang justru dikelilingi kemudahan untuk bermalas-malasan dalam beribadah? Kamu bisa baca lebih lanjut soal bagaimana menjaga semangat beribadah di tengah gempuran distraksi dan rasa mudah putus asa yang sering menghinggapi kita, karena tantangan zaman sekarang bukan cuma soal keterbatasan fasilitas, tapi juga soal godaan yang membuat kita lupa bersyukur atas kemudahan yang sudah ada.

Penutup

Jadi Muslim di negara yang 99 persen penduduknya bukan Muslim itu bukan cerita yang mudah. Tapi justru dari sanalah kita belajar, bahwa iman yang sesungguhnya diuji bukan saat semuanya mudah, tapi saat kita tetap memilih taat meski jalannya jauh lebih berat.

Semoga Allah kuatkan saudara-saudara kita yang berjuang menjaga imannya di tengah keterasingan, dan semoga kisah mereka jadi pengingat bagi kita yang justru sering lupa bersyukur atas kemudahan yang kita punya setiap hari.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

1. Kenapa jumlah Muslim di Jepang bisa bertambah pesat padahal fasilitasnya masih terbatas? Pertumbuhan ini didorong beberapa faktor, mulai dari migrasi pekerja dan mahasiswa dari negara-negara Muslim seperti Indonesia, Pakistan, dan Bangladesh, sampai peningkatan jumlah warga Jepang asli yang menjadi mualaf karena ketertarikan pada nilai-nilai Islam soal keadilan sosial dan kebersamaan.

2. Apakah aman menjadi Muslim di Jepang, mengingat mereka minoritas yang sangat kecil? Secara umum, Jepang termasuk negara yang cukup ramah terhadap pendatang Muslim, dengan fasilitas halal dan ruang ibadah yang terus berkembang, meski masih jauh dari ideal. Tantangan yang dihadapi lebih ke arah kurangnya pemahaman masyarakat umum soal Islam, dibanding ancaman keamanan secara langsung.

3. Bagaimana Muslim di Jepang biasanya mengatasi kesulitan mencari makanan halal? Banyak yang mengandalkan halal corner di beberapa supermarket besar, restoran khusus halal yang jumlahnya terus bertambah seiring tren wisata halal, atau memasak sendiri dengan bahan yang sudah dipastikan kehalalannya. Sebagian juga bergabung dengan komunitas Muslim untuk saling berbagi informasi soal tempat belanja yang aman.

4. Apakah anak-anak Muslim di Jepang bisa mendapat pendidikan agama yang layak? Ini masih jadi salah satu tantangan besar. Beberapa keluarga terpaksa mengirim anak-anaknya belajar agama ke negara lain karena keterbatasan fasilitas pendidikan Islam formal di Jepang, meski beberapa komunitas mulai membangun sekolah dan pengajian rutin untuk mengatasi kebutuhan ini.

5. Apa pelajaran paling penting yang bisa diambil pembaca Indonesia dari kisah ini? Pelajaran utamanya adalah soal rasa syukur dan konsistensi. Kemudahan menjalankan ibadah di Indonesia seharusnya membuat kita lebih semangat, bukan malah lengah, karena saudara kita di negara minoritas justru harus berjuang jauh lebih keras untuk melakukan hal yang bagi kita terasa sangat mudah.


Artikel ini disusun berdasarkan kajian dari NU Online, Dompet Dhuafa, Suara.com, Hidayatullah.com, dan referensi hadits arbain riwayat Imam Muslim tentang keterasingan (ghurbah) dalam Islam.

Bagikan

Baca Juga