Langsung ke konten
keluarga muslim

Anak Minder Dibilang Sok Alim oleh Temannya? Begini Cara Membangun Percaya Dirinya

Anak yang dulu rajin shalat dan teguh prinsip, kini mulai minder karena dibilang sok alim oleh teman-temannya? Kenali tiga kebutuhan psikologis yang membuat nilai-nilai Islam benar-benar mengakar, bukan sekadar tekanan yang ditinggalkan saat dewasa.

Irwn · · 7 menit baca
Anak Minder Dibilang Sok Alim oleh Temannya? Begini Cara Membangun Percaya Dirinya

Mungkin, dulu anakmu rajin shalat tanpa disuruh.

Mengaji dengan semangat. Menolak diajak nongkrong yang tidak jelas. Bicara jujur meski berisiko dijauhi. Ia bangga dengan nilai-nilai yang kamu tanamkan sejak kecil.

Tapi sekarang, ketika ia mulai remaja, kamu melihat perubahan yang membuatmu khawatir. Ia mulai ragu shalat di depan teman-temannya. Ia mulai membela diri ketika diejek “sok alim” atau “kurang gaul”. Ia mulai melonggarkan beberapa hal, bukan karena berubah keyakinan, tapi karena lelah jadi berbeda.

Ini bukan fenomena langka. Justru ini salah satu tantangan paling umum yang dihadapi remaja Muslim di Indonesia hari ini. Bukan karena mereka minoritas, tapi justru karena standar “gaul” yang berkembang di lingkungan sekitar sering kali berlawanan dengan nilai-nilai yang mereka pegang.

Dan kabar baiknya, ada cara untuk membantu mereka tetap teguh tanpa harus menjadi kaku atau terisolasi.

Kenapa Anak yang Taat Justru Sering Diremehkan?

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Tekanan teman sebaya atau peer pressure selalu ada di setiap generasi. Yang berbeda hari ini adalah skala dan intensitasnya, karena validasi sosial sekarang datang dari mana-mana: grup chat, media sosial, circle pertemanan di sekolah, bahkan komentar orang asing di internet.

Remaja secara psikologis berada di fase mencari identitas dan penerimaan. Inilah masa ketika rasa ingin diterima oleh teman sebaya berada di titik tertinggi. Maka ketika nilai-nilai yang ditanamkan orang tua terasa “berbeda” dari standar pergaulan sekitarnya, anak akan mengalami konflik batin yang nyata: ikut teman dan merasa diterima, atau pegang prinsip dan merasa terasing.

Sheikh Ibrahim Hindy dari Yaqeen Institute mengingatkan bahwa orang tua perlu membekali anak bukan hanya dengan aturan, tapi dengan kemampuan untuk menavigasi tekanan sosial itu sendiri. Karena cepat atau lambat, anak akan menghadapi situasi di mana nilai-nilainya diuji di luar pengawasan orang tua.

Tiga Kebutuhan Psikologis yang Menentukan Apakah Anak Akan Bertahan

Penelitian dari Yaqeen Institute yang mengadaptasi Self-Determination Theory, sebuah teori psikologi tentang motivasi manusia, menjelaskan bahwa remaja akan benar-benar menginternalisasi nilai-nilai agamanya, bukan sekadar mematuhinya, ketika tiga kebutuhan dasar ini terpenuhi.

1. Kompetensi: Merasa Mampu Menjalankan Nilainya

Anak perlu merasa mampu untuk hidup sesuai nilai Islam, bukan merasa terus-menerus gagal atau kurang.

Kalau setiap kali anak melakukan kesalahan kecil dalam ibadah responnya selalu kritik dan perbandingan, ia akan tumbuh dengan perasaan tidak pernah cukup baik sebagai Muslim. Dan orang yang merasa tidak kompeten cenderung menyerah, bukan berjuang lebih keras.

Bantu anak merasa kompeten dengan merayakan progres kecil. Bukan menuntut kesempurnaan, tapi mengapresiasi usaha. “MasyaAllah, kamu tetap jaga shalat meskipun lagi sibuk ujian” jauh lebih membangun daripada “Kenapa shalatmu telat terus.”

2. Otonomi: Merasa Ini Pilihannya Sendiri

Ini yang paling krusial untuk remaja.

Nilai yang dipaksakan dari luar, tanpa anak benar-benar memahami dan memilihnya sendiri, akan sangat mudah goyah ketika ada tekanan dari luar yang lebih kuat. Tapi nilai yang sudah menjadi pilihannya sendiri, yang ia pahami alasannya dan ia yakini kebenarannya, jauh lebih kokoh.

Praktiknya: ajak anak berdiskusi, bukan hanya memerintah. “Menurut kamu kenapa sih kita diajarkan menjaga pergaulan?” lebih membangun otonomi daripada “Pokoknya jangan dekat-dekat sama anak itu.”

Berikan juga ruang baginya untuk membuat pilihan dalam batas yang aman. Biarkan ia memilih sendiri kapan waktu mengaji yang nyaman baginya, selama konsisten. Biarkan ia menentukan caranya sendiri menjelaskan kepada teman kenapa ia tidak ikut nongkrong tertentu.

3. Keterhubungan: Merasa Tidak Sendirian

Manusia, apalagi remaja, tidak dirancang untuk bertahan sendirian melawan tekanan sosial.

Anak yang merasa bahwa nilai-nilai yang ia pegang hanya didukung oleh orang tuanya di rumah, sementara di luar sana ia sendirian, akan jauh lebih mudah menyerah. Tapi anak yang punya komunitas, entah teman-teman sebaya yang sevisi, kakak kelas yang ia kagumi karena istiqomahnya, atau bahkan tokoh yang ia idolakan, akan merasa bahwa pilihannya itu normal dan didukung.

Inilah pentingnya membangun lingkaran pertemanan yang sehat. Cari kegiatan remaja masjid, organisasi pelajar Muslim, atau komunitas yang sevisi. Anak yang melihat teman sebayanya juga bangga menjaga shalat dan pergaulan akan merasa “ternyata bukan cuma aku yang begini.”

Nabi Mengajarkan Cara Menghadapi Ejekan dengan Kepala Tegak

Para sahabat Nabi di masa awal Islam menghadapi ejekan dan tekanan yang jauh lebih berat dari sekadar dibilang “sok alim”. Mereka diolok-olok, disiksa, bahkan diboikot secara ekonomi karena memilih Islam.

Tapi Nabi tidak pernah mengajarkan mereka untuk membalas ejekan dengan kemarahan atau menyembunyikan keyakinan. Beliau mengajarkan ketenangan dan keteguhan yang berasal dari keyakinan yang dalam.

Allah berfirman dalam QS. Fussilat ayat 33: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.’”

Ada satu pelajaran penting di sini: kekuatan menghadapi ejekan bukan datang dari membenci yang mengejek, tapi dari kejernihan tentang siapa dirinya dan apa yang ia yakini.

Ajari anak untuk merespons ejekan dengan tenang, bukan defensif atau emosional. “Ya, aku memang gini, dan aku nyaman dengan pilihanku” adalah respons yang jauh lebih kuat daripada berdebat atau justru ikut-ikutan demi diterima.

Cerita yang Membangun Kebanggaan, Bukan Rasa Bersalah

Salah satu cara paling efektif membangun rasa percaya diri anak adalah lewat cerita. Bukan ceramah tentang dosa dan kewajiban, tapi kisah-kisah yang menunjukkan bahwa menjadi pribadi yang berbeda dan teguh adalah sesuatu yang membanggakan, bukan memalukan.

Ceritakan kisah-kisah sahabat muda Nabi seperti Mush’ab bin Umair, seorang pemuda elite Mekkah yang rela kehilangan segala kemewahan demi keyakinannya, dan justru menjadi salah satu sahabat paling dihormati dalam sejarah Islam. Ceritakan kisah-kisah perempuan tangguh dalam sejarah Islam yang tetap berpegang pada prinsipnya meski berbeda dari lingkungan sekitarnya. Kamu bisa menemukan lebih banyak kisah inspiratif semacam ini di kategori kisah Islam kami.

Cerita-cerita ini menanamkan satu pesan penting: menjadi berbeda karena prinsip bukan kelemahan. Itu kekuatan yang akan dikenang.

Yang Perlu Orang Tua Hindari

Ada beberapa respons orang tua yang justru memperburuk situasi, meski niatnya baik:

Jangan meremehkan perasaannya. “Ah, itu mah biasa, nggak usah didengerin” terdengar sepele bagi orang dewasa, tapi bagi remaja, ejekan dari teman sebaya terasa sangat berat. Validasi dulu perasaannya sebelum memberi nasihat.

Jangan membandingkan dengan anak lain. “Lihat tuh anak Bu Fulan, dia santai aja dibilang sok alim” justru menambah beban, bukan menguatkan.

Jangan menjadikan ini ajang ceramah panjang. Saat anak curhat tentang diejek, yang ia butuhkan pertama adalah didengar, baru kemudian solusi. Terlalu cepat berceramah membuat anak enggan curhat di lain waktu.

Jangan ikut panik dan melarang semua interaksi sosial. Mengisolasi anak dari pertemanan justru bisa membuatnya semakin merasa berbeda dan kesepian, bukan semakin percaya diri.

Doakan dan Dampingi, Bukan Hanya Mengatur

Ada satu hal yang sering terlewat: kekuatan doa orang tua dalam proses ini.

Membangun percaya diri anak bukan hanya soal strategi komunikasi yang tepat. Ada bagian yang berada di luar kendali manusia, yang hanya bisa dipasrahkan kepada Allah. Doakan agar hati anakmu dikuatkan, agar ia diberi teman-teman yang baik, dan agar Allah menjaga keimanannya di tengah pergaulan yang penuh tantangan.

Kamu bisa merujuk pada 10 doa orang tua untuk anak dalam Al-Qur’an untuk doa-doa yang relevan dengan situasi ini, khususnya doa memohon keturunan yang saleh dan doa perlindungan.

Dan ingat, membangun ketangguhan anak menghadapi tekanan sosial sangat berkaitan dengan fondasi ketangguhan iman secara keseluruhan yang sudah kita bahas di artikel cara membangun ketangguhan iman anak sejak dini. Keduanya saling menopang.

Berbeda Itu Bukan Kekurangan

Pesan terpenting yang perlu sampai ke hati anak adalah ini: menjadi berbeda karena prinsip bukan sesuatu yang harus ditutupi atau diminta maaf.

Dunia akan selalu mencoba menarik anak ke arah validasi yang dangkal dan sementara. Tapi anak yang dibesarkan dengan kompetensi, otonomi, dan keterhubungan yang sehat, akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak butuh validasi semua orang untuk merasa berharga.

Karena pada akhirnya, yang ia cari bukan pengakuan dari teman sekelas hari ini. Tapi keridhaan Allah yang akan menemaninya seumur hidup, bahkan ketika circle pertemanan berganti dan teman-teman yang dulu mengejek sudah lama dilupakan.

Artikel ini terinspirasi dari kajian Yaqeen Institute tentang Self-Determination Theory dalam parenting Islam dan strategi Sheikh Ibrahim Hindy untuk membesarkan anak Muslim yang percaya diri.

Bagikan

Baca Juga