Shalat Dhuha: Kenapa Nabi Sangat Mencintai Shalat yang Satu Ini?
Banyak yang tahu shalat Dhuha tapi belum tahu kenapa Nabi sampai mewasiatkannya secara khusus kepada sahabat terdekatnya. Kenali makna waktu dhuha dalam Al-Qur'an, keutamaan yang jauh lebih luas dari sekadar rezeki, dan cara menjadikannya kebiasaan yang tidak terasa berat.
Jam delapan pagi. Kamu baru selesai sarapan. HP sudah mulai penuh notifikasi. Pikiran sudah mulai penuh urusan hari ini.
Di tengah semua itu, ada satu shalat sunnah yang Nabi sangat cintai, yang bisa kamu kerjakan dalam sepuluh menit, tapi dampaknya bisa mewarnai seluruh hari yang tersisa.
Namanya shalat Dhuha.
Banyak yang tahu soal shalat Dhuha. Tapi tidak banyak yang benar-benar memahami kenapa Nabi sampai begitu mencintainya, apa yang sebenarnya terjadi ketika kita mengerjakannya, dan apa yang kita lewatkan ketika kita terus menundanya.
Surah yang Turun Untuk Menghibur Nabi
Sebelum membahas shalatnya, ada satu surah dalam Al-Qur’an yang sangat berkaitan dengan waktu dhuha ini: Surah Adh-Dhuha.
Surah ini turun di momen yang sangat berat bagi Nabi Muhammad. Wahyu sempat terhenti beberapa waktu. Para musuh Nabi mulai mengejek, mengatakan bahwa Tuhannya sudah meninggalkan dan membencinya. Nabi merasa sedih dan gundah.
Lalu Allah menurunkan surah ini: “Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak pula membenci(mu).” (QS. Adh-Dhuha: 1-3)
Allah bersumpah demi waktu dhuha untuk meyakinkan Nabi bahwa Dia tidak pernah pergi.
Ini penting untuk dipahami: waktu dhuha bukan sekadar jam tertentu di pagi hari. Dalam tradisi Al-Qur’an, waktu dhuha adalah simbol kehadiran Allah, kebangkitan setelah kegelapan, harapan setelah masa yang berat.
Dan shalat yang dikerjakan di waktu ini membawa semangat yang sama.
Berapa Rakaat dan Kapan Waktunya?
Shalat Dhuha dikerjakan setelah matahari naik sepenggalahan, sekitar 15-20 menit setelah matahari terbit, hingga mendekati waktu Dhuhur.
Di Indonesia, ini berarti kira-kira mulai pukul 07.00 hingga sekitar pukul 11.30, tergantung lokasi dan musim. Waktu terbaiknya adalah ketika matahari sudah terasa hangat, sekitar pukul 08.00 hingga 09.00.
Jumlah rakaat minimal adalah dua rakaat, dan bisa diperpanjang hingga dua belas rakaat, dikerjakan dua rakaat dua rakaat. Tidak ada batasan surah yang wajib dibaca, tapi dianjurkan membaca Surah Asy-Syams dan Surah Adh-Dhuha karena keduanya tematik dengan waktu pagi dan cahaya.
Cara mengerjakannya sama persis dengan shalat sunnah lainnya: niat, takbiratul ihram, membaca Al-Fatihah dan surah, ruku, sujud, dan seterusnya hingga salam.
Hadits yang Paling Menyentuh tentang Dhuha
Ada banyak hadits tentang shalat Dhuha, tapi ada satu yang menurut saya paling mengena karena bukan soal pahala. Melainkan soal kasih sayang.
Nabi bersabda kepada Abu Hurairah: “Kekasihku, Rasulullah, mewasiatkan kepadaku tiga hal: puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat shalat Dhuha, dan shalat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Perhatikan kata “kekasihku” yang Abu Hurairah gunakan untuk menyebut Nabi. Dan di antara sekian banyak wasiat yang mungkin diberikan Nabi kepada sahabatnya yang paling bersemangat dalam menjaga hadits itu, shalat Dhuha termasuk tiga yang dipilih.
Ini bukan tentang Dhuha sebagai amalan tambahan yang menguntungkan secara hitung-hitungan pahala. Ini tentang Dhuha sebagai sesuatu yang Nabi pilih untuk diwariskan kepada orang-orang terdekatnya.
Sedekah untuk 360 Sendi Tubuhmu
Salah satu keutamaan shalat Dhuha yang paling terkenal berasal dari hadits yang sangat unik.
Nabi bersabda: “Pada setiap pagi, setiap sendi dari salah seorang di antara kamu harus membayar sedekah. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan kebaikan adalah sedekah, dan mencegah kemungkaran adalah sedekah. Dan semua itu tercukupi dengan dua rakaat yang dikerjakan di waktu Dhuha.” (HR. Muslim)
Secara biologis, tubuh manusia memiliki sekitar 360 sendi. Menurut hadits ini, setiap sendi itu “berutang” sedekah kepada Allah setiap harinya sebagai bentuk syukur atas nikmat bergerak yang kita nikmati secara gratis setiap hari. Dan semua utang sedekah itu bisa dilunasi hanya dengan dua rakaat Dhuha.
Ini bukan soal mengambil “jalan pintas” dalam beribadah. Ini soal cara Allah, Yang Maha Pengasih, memberikan kemudahan kepada hamba-Nya yang mau menyempatkan diri untuk mengingat-Nya di pagi hari.
Bukan tentang Rezeki Semata
Di Indonesia, shalat Dhuha sangat sering dikaitkan dengan satu tujuan: meminta rezeki. Bukan sesuatu yang salah, tapi ini menyederhanakan makna Dhuha menjadi sekadar “mesin rezeki” yang diaktifkan sesuai kebutuhan.
Ada hadits qudsi yang disampaikan Nabi tentang shalat Dhuha yang perspektifnya lebih luas dari sekadar rezeki:
“Allah berfirman: ‘Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku empat rakaat di awal siang, maka Aku akan mencukupimu hingga akhir siang.’” (HR. Tirmidzi)
“Mencukupi” dalam hadits ini ditafsirkan oleh para ulama jauh lebih luas dari sekadar rezeki materi. Ini mencakup dicukupinya kamu dari gangguan, kecukupan dalam menghadapi masalah yang datang, kecukupan energi dan fokus untuk menjalani hari, dan kecukupan batin yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Intinya adalah ini: kalau kamu memulai paginya dengan menghadap Allah, Allah yang akan mengurus sisanya.
Kenapa Shalat Dhuha Terasa Berat?
Jujur saja, banyak orang yang tahu keutamaan Dhuha tapi tetap tidak mengerjakannya secara rutin. Ada beberapa alasan yang umum.
Pertama, waktu Dhuha bersamaan dengan jam-jam paling sibuk pagi hari. Setelah Subuh, ada rutinitas pagi, sarapan, menyiapkan anak sekolah, atau berangkat kerja. Dhuha terasa seperti satu tambahan yang sulit diselipkan.
Kedua, tidak ada tekanan sosial seperti shalat fardhu. Tidak ada azan, tidak ada teguran kalau terlewat. Shalat sunnah selalu lebih mudah untuk ditunda.
Tapi ada satu tips yang banyak ulama anjurkan: shalat Dhuha di masjid sebelum pergi bekerja, atau langsung di meja kerja saat tiba di kantor sebelum membuka email atau media sosial. Jadikan Dhuha sebagai hal pertama yang kamu lakukan setelah tiba, bukan sesuatu yang kamu lakukan “kalau sempat nanti.”
Karena kalau menunggu sempat, biasanya tidak pernah sempat.
Kisah di Balik Nama Surahnya
Satu detail kecil yang menarik: dari 114 surah dalam Al-Qur’an, Allah memilih waktu dhuha sebagai nama untuk surah yang menghibur Nabi di masa paling sulitnya.
Ini bukan kebetulan. Waktu dhuha adalah waktu ketika bumi sudah cukup terang untuk bekerja, tapi belum terlalu panas untuk menjadi menyiksa. Ia adalah titik keseimbangan antara awal yang segar dan puncak yang melelahkan.
Shalat di waktu ini adalah pengingat bahwa sebelum hari ini benar-benar berat, ada jeda untuk berhenti sejenak dan mengingat siapa yang mengatur seluruh hari itu.
Mulai dari Dua Rakaat Saja
Kalau selama ini shalat Dhuha belum jadi kebiasaan, tidak perlu langsung menargetkan dua belas rakaat.
Mulai dari dua rakaat. Kerjakan besok pagi, setelah matahari naik sekitar setengah jam setelah Subuh. Bacalah Surah Adh-Dhuha di rakaat pertama, dan rasakan maknanya sambil membaca.
“Tuhanmu tidak meninggalkan engkau dan tidak pula membenci.”
Dua rakaat yang kamu kerjakan dengan kesadaran penuh seperti itu jauh lebih bernilai dari dua belas rakaat yang dilakukan terburu-buru sambil pikiran melayang.
Dan kalau kamu ingin shalat yang sudah kamu kerjakan itu semakin bermakna, pahami juga apa yang terjadi di balik setiap gerakan shalat yang kamu lakukan, sebagaimana yang kita bahas dalam rahasia tersembunyi di balik setiap gerakan shalat yang jarang kita sadari.
Artikel ini merangkum keutamaan shalat Dhuha berdasarkan hadits shahih dari Imam Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi, beserta penjelasan para ulama tentang maknanya.
Baca Juga